Text
Anak dan hantu kekerasan = Children versus predators : potret kekerasan terhadap anak di media massa : media portrait on violence against children
Masalah pemberitaan isu anak bukan hanya rendah dari segi kuantitas, tapi juga kualitas. Anak kerap disorot pada aspek nilai berita semata, kadangkala diberitakan secara sensasional, sering pula ditemui berita yang tak menghiraukan kode etik, dan merugikan hak-hak anak di masa depan. Akibatnya, liputan anak semula bermaksud membela, justru membuat anak tereksploitasi. Sang anak akhirnya tidak bebas lagi, karena kasusnya telah diketahui publik. Dituntut pemahaman jurnalis tentang hak-hak anak. Atas dasar inilah AJI berkomitmen mendorong para jurnalis memberikan porsi lebih pada peliputan soal anak, dan secara kualitas pemberitaan itu berdampak bagi kebijakan dan perlindungan pada anak. Pada 2010 ini, AJI dengan dukungan dari UNICEF kembali menyelenggarakan penghargaan kepada liputan media terbaik tentang anak bagi jurnalis media cetak/online, radio dan televisi. Buku ini berisi 5 artikel peraih penghargaan, dimana artikel berjudul “Refleksi 11 tahun Konflik Ambon" yang terbit dalam Koran Rakyat Tenggara, Ambon ditulis oleh M.Azis Tunny sebagai penerima penghargaan jurnalistik AJI-UNICEF 2009. Artikel ini, selain memberikan ragam dan nuansa baru, juga membawa pesan dan pelajaran penting. Selain pendekatan yang reflektif, penulis mampu masuk ke subkultur anak-anak mantan combatant dari kedua belah pihak yang dahulu bakubunuh. Walau pembaca mungkin masih gregetan untuk melihat kajian yang lebih mendalam, pesan yang disampaikan dalam artikel ini sudah jelas - loud and clear! Indonesia yang sarat dengan konflik horizontal dan masih mempunyai sisa-sis konflik vertikal, masih mempunyai banyak sekali pekerjaan rumah. Mudah dimengerti bahwa konflik di masa yang akan datang mungkin dipicu oleh berbagai isu yang belum selesai dalam konflik sebelumnya.
No other version available